Oleh : Khairuddin Kedang
Mahasiswa FIS-Universitas Negeri Surabaya
Dulu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), salah seorang guru saya sempat mengatakan bahwa “kamu harus sekolah dan terus sekolah, hingga ke Perguruan Tinggi”. Sekilas terdiam, kemudian saya balik bertanya “Perguruan Tinggi?” apa itu Pak? Perguruan Tinggi itu tempat orang-orang pintar, hebat dan para ilmuan dari berbagai cabang ilmu Pengetahuan. Perguruan Tinggi itu yang biasa disebut orang dengan nama lainnya yaitu KAMPUS.
Percakapan yang terjadi sekitar tahun 1999 itu, seketika mengubah jalan pikiran saya yang tadinya merasa tidak mampu untuk terus bersekolah sampai ke Perguruan Tinggi karena kehidupan keluarga yang serba pas-pasan, berubah menjadi sebuah motifasi, yaitu bahwa saya harus bias dan terus bersekolah hingga ke Perguruan Tinggi entah bagaimanapun caranya.
Kini saya sudah duduk di bangku Perkuliahan/Perguruan Tinggi dan menjadi warga KAMPUS. Bertemu dengan orang-orang hebat, pintar dan para ilmuan dari berbagai cabang ilmu pengetahuan yang dibicaraka guru saya waktu itu. Saya kini mejadi seorang Mahasiswa. Mahasiswa yang sering oleh tidak sedikit orang menyebutnya sebgai agen of change, juga sebagai anggota masyarakat akademika yang tentunya mempunyai peran mencerdaskan kehidupan bangsa yang dimanatkan oleh UUD 1945.
Yang namanya Kampus, tentunya tersimpan berbagai macam ilmu pengetahuan yang membawa kepada perubahan, baik itu perubahan batiniah ataupun lahiriah. Batiniah yang mencakup bagaimana mereka menempatkan pemahaman mereka terhadap makna kampus serta lahiriah yang mencakup pola perilaku keseharian mereka di dalam kampus. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran serta masyarakat dan atau warga yang ada di dalam kampus itu sendiri.
Secara konsep, dapat kita makanai bahwa kampus merupakan kampong ilmiah yang menuntut masyarakatnya untuk berbuat sasuat hal yang berkenaan dengan perubahan yang tentunya perubahan kearah yang lebih baik. Dengan demikian, tidak dapat kita ragukan lagi bahwa kampus adalah pencetus perubahan dari waktu ke waktu.
Sebuah contoh, bahwa runtuhnya rezim Orde Baru yang dipimpin oleh H. M. Soeharto mampu ditumbangkan oleh sebagian masyarakat kampus, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan mahasiswa. Mahasiswa punya bergening yang kuat yang walaupun secara status mereka hanyalah masyarakat biasa yang tidak mempunyai pangkat atau jabatan apapun di negeri kampus itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar