Sabtu, 17 Oktober 2009

SBY


KURSI PANAS ITU AKAN DI DUDUKINYA KEMBALI
Oleh : Khairuddin Kedang
Mahasiswa PPKn, Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Surabara


Lima tahun sudah negeri ini di pimpin oleh sosok seorang SBY yang pada awal kepemimpinannya hingga menjelang akhir periode kepemimpinannya, hampir tidak terlepas dari berbagai macam konflik dan bencana. Sebuah pertanyaan kemudian muncul, bahwa apakah segala bentuk peristiwa-peristiwa kemanuasiaan baik itu konflik, bencana alam ataupun permasalahan-permasalahan ketatanegaraan yang muncul dari awal datangnya SBY samapai pada akan perginya SBY dari kursi republik ini semata-mata karena takdir dari Yang Kuasa ataukah hanya semacam sebuah Dramatugri Kepemimpinan SBY?

Bukan saja itu, persoslan-persoalan semacam gizi buruk yang melanda sebagian daerah di NTT, Papua dan daerah-daerah lainnya, juga tiada henti membayang-bayangi keseharian pemimpin republik itu. Sulit dibayangkan, betapa panasnya kursi keramat itu.

Memang, sebagai seorang pemimpin atau kepala pemerintahan tentunya Beliau membawahi beberapa mentri-mentri negara ang khusus menangani kasus-kasus seperti yang telah kita sebutkan di atas, dan tidak seberpa rumit tugas seorang pemimpin jika kita logikakan. Namun adakah keadaan seperti ini akan membuat seorang pemimpin tenang dengan hanya berjalan-jalan ke luar negeri sebagai tamu negara sekaligus adalah merupakan ajang refreshing walaupun di sana nantinya tidak sedikit persoalan-persoalan seputar hubungan luar negeri akan diperbincangkan, ataukah hanya sekedar menunggu tanda tangan persetujuan, peresmian, melntik dan mencopot jabatan, dan lainnya yang tentu tidak memeras tenaga waktu dan pikiran?

SBY punya sejuta kekhususan yang mampu membawa Beliau duduk dan akan duduk kembali di kursi panas itu. Berangkat dari menjadi seorang prajurit sampai pada menjadi seorang pucuk pimpinan di republik ini, membuat Beliau mahir dalam menata kehidupan baik itu kehidupan pribadi, keluarga, para mentri-mentrinya hingga rakyat yang dipimpinnya. Beliau juga adalah sosok seorang pemimpin yang penuh dedikasi, pengayoman yang mau merangkul iapa saja tampa pandang kawan atau lawan, kaya atau miskin, pintar atau bodoh dan kecil maupun besar. Beliau punya ketegasan, disiplin yang tinggi, ulet dan pantang menyerah dalam menghadapi segala bentuk tantangan yang merintangi. Terakhir saya akan mengatakan bahwa SBY is e Super Heronya Indonesia sekarang ini.

Demokrat, SBY dan Demokrasi

Jika di pertengahan tahun 1954, tepatnya pada tanggal 20 Juli keluar tulisan Natsir dalam “Suara Masyumi” yang merupakan seruan kepada semua patriot untuk membela demokrasi yang sedang terancam, kata Natsir Masyumi sebagai suatu partai yang dalam saat yang bagimanapun selalu berusaha mempertahankannya dari keruntuhan. Masyumi dengan restan-restan hak demokrasi yang masih tinggal akan menentang setiap tindakan yang hendak menghancrukan sendi-sendi demokrasi (Panitia Buku Peringatan Moh Natsir/Moh Roem 70 Tahun, 1978 : 204), maka SBY pada tahun 2004 dengan partainya yaitu Demokrat muncul sebagai peserta pesta demokrasi, merangkul suara rakyat dan membawanya menjadi presiden pertama di dalam pelaksanaan demokrasi langsung oleh rakyat yang sekaligus seolah-olah menyatakan kepada Mohammad Natsir bahwa inilah hasil dari perjuanganmu mempertahankan demokrasi yang hampir punah dari peradabannya kala itu.

Memang, demokrasi pada masa-masa kepemimpinan sebelumnya belum terlalu tampak ke permukaan karena memang dikekang oleh penguasa-penguasa kala itu, dalam artian demokrasi pada masa itu hanya sekedar nama dan semboyan ketika akan mengawali sebuah kepemimpinan. Demokrasi seolah hilang makna bahwa demokrasi berarti dari, oleh dan untuk rakyat itu berbelok ke arah dari rakyat oleh pemimpin dan untuk pemimpin dan yang punya kepentingan di sana. Keadaan seperti inilah oleh SBY dengan cita-cita yang besar ingin meubahnya kembali menjadi demokrasi sesungguhnya.
Kita bisa lihat betapa upaya-upaya itu ada. Berbagai program untuk rakyat dicanangkan demi kemaslahatan masyarakan di republik ini. Hal demikian seolah memberikan jawaban kepada rakyat bahwa demokrasi dari dan untuk rakyat itu masih ada dan memang harus selalu ada di dalam detak jantung dan bayangan yang selalu ikut kemanapun kita pergi. Dengan begitu maka para pendiri demokrasi akan tersenyum bangga melihat negeri ini begitu hidup dengan demokrasi yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar