Kita mungkin telah banyak mendengar, membaca dan melihat orang berbicara soal demokrasi. Di media seperti surat kabar, majalah, buletin, televisi dan radio, tidak jarang tulisan ataupun tontonan yang berbicara tentang demokrasi sering menguak, yang pada intinya bertujuan untuk memberi gambaran dan pembelajaran tentang apa itu demokrasi, bagaimana pola pelaksanannya dan lain sebagainya. Sepintas, kita mumgkin akan mengatakan bahwa demokrasi adalah kedaulatan rakyat, dan hal itu memang benar adanya. Tetapi kita mungkin juga akan bingung dan tentunya bertanya-tanya, “demokrasi yang mana dan seperti apa yang sering dibicarakan itu?”.
Memang, bahwa tidak akan ada seorang tokoh poloitik ketatanegaraanpun akan menolak dan berkomentar lai tentang demokrasi yang dibicarakan itu, karena secara konsep demokrasi adalah kadaulatan rakyat atau sering kita sebut dengan beberapa istilah dari, oleh dan untuk rakyat. Dalam pengertian lebih luasnya, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Apa yang kemudian ada di dalam benak kita ketika kita mengetahui arti daripada demokrasi itu sendiri? Kita mengenal adanya berbagai macam dan bentuk demokrasi, seperti demokrasi kerakyatan, demokrasi terpimpin, demokrasi liberal dan demokrasi pancasila sebagai ciri khas negara kita Indonesia. Dan ini semua adalah merupakan model demokrasi yang telah dan pernah ada serta di anut oleh sistem ketatanegaraan kita. Hal mana yang menyebabkan sehingga demokrasi kita terus-terus mengalami pergntian?
Sebagai salah satu negara penganut sisitem ini, Indonesia tentunya berharap agar para pelaksananya mau menghayati dan menganalkan makna demokrasi itu secara utuh seperti yang diajarkan oleh demokrasi itu sendiri, karena tujuan yang ingin dicapai oleh penerapan sistem ini adalah untuk mencapai terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi kita yaitu UUD 1945. Tetapi perlu di ingat bahwa yang namanya sistem, tentunya mempunyai kelemahan-kelemahan yang apabila tidak terkontrol dengan baik maka bukan tidak mungkin sisitem itu menghancurkan penganutnya sendiri. Demokrasi contohnya, bahwa selain merupakan sebuah sistem atau model kebijaksanaan polotik ketatnegaraan yang tertata baik dan tepat guna, demokrasi juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang mampu merobohkan pilar ketatanegaraan di dalam negara atau nation state penganutnya itu sendiri. Ada beberapa kelemahan daripada model atau sistem ketatanegaraan demokrasi, antara lain :
Pertama, demokrasi tidak dengan sendirinya lebih efisien secara ekonomis ketimbang bentuk-bentuk pemerintahan lainnya. Tingkat agregat pertumbuhan, tabungan, dan penanaman modal sangat mungkin tidak lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang bercorak non-demokrasi. Kedua, demokrasi tidak secara otomatis lebih efisien secara administratif. Kapasitas demokrasi untuk mengambil keputusan-keputusan boleh jadi lebih lambat ketimbang rezim rezim yang pernah digantikannya. Para aktor politik harus terlibat secara intensif untuk berkonsultasi. Ketiga, demokrasi tidak mampu menunjukkan situasi yang lebih tertata rapi, penuh konsensus, stabil, atau dapat memerintah ketimbang sistem otokrasi yang mereka jungkalkan. Ini adalah produk yang sulit dielakkan dari kebebasan ekspresi demokratis, selain juga merupakan refleksi dari ketidaksepakatan yang terus berlanjut di atas aturan-aturan dan lembaga-lembaga baru. Keempat, demokrasi memang memungkinkan masyarakat dan kehidupan politik lebih terbuka ketimbang otokrasi yang disingkirkannya, tetapi tidak dengan sendirinya menjadikan ekonomi lebih terbuka. Negara-negara demokrasi yang sukses dan mapan memiliki sejarah menjalankan proteksi dan menutup batas-batas negaranya, dan melandaskannya pada institusi-institusi publik secara ekstensif untuk meningkatkan perkembangan ekonomi.
Dengan demikian, tidak dapat kita bantah lagi bahwa polemik-polemik yang muncul di sebagian masyarakat Indonesia seperti “lebih baik kita kembali lagi ke rezim militer ala Soeharto” yang walaupun kejam, namun memberikan pengharapan mengenai kemakmuran, kenyamanan hidup dan kestabilan politis yang sulit diwujudkan saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar